A.
Tinjauan Umum tentang
Kehamilan
1. Pengertian
a. Masa
kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal
adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid
terakhir. (Saifuddin, 2006).
b.
Kehamilan
adalah proses dimana sperma menembus ovum sehingga terjadinya konsepsi dan
fertilasi sampai lahirnya janin, lamanya hamil normal adalah 280 hari (40
minggu atau 9 bulan), dihitung dari pertama haid terakhir. (Alzam Faisal,
2009).
QS. AL-MU’MINUN :12-14
ولقد خلقنا
الانسان من سللة من طين (12) ثم
جعلناه نطفة في قرارمكين (13) ثم
خلقنااالنطفة علقة فخلقناالعلقة مضغة فخلقنا المضغة عظاما فكسوناالعظام لحما ثم
انشأناه خلقا اخر فتبارك الله احسن الخالقين (14) المؤمنون : 12 – 14 )
“Dan sesungguhnya, kami telah menciptakan manusia dari sari pati (berasal)
dari tanah. Kemudian kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat
yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu kami jadikan sesuatu yang melekat,
lalu sesuatu yang melekat itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging
itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan
daging, kemudian, kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci
Allah, pencipta yang paling baik” ( QS. Al Mu’minun : 12 – 14).
c. Kehamilan
di bagi menjadi triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai
sampai minggu ke-13, triwulan kedua dari minggu ke-14 sampai minggu ke-26, triwulan
ketiga dari minggu ke-27 sampai minggu ke 38-40. (Salma, 2006).
Dari
definisi kajian penulis maka disimpulkan kehamilan adalah proses dimana sperma
menembus ovum sehingga terjadinya konsepsi dan fertilasi sampai lahirnya janin,
lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan), dihitung dari
pertama haid terakhir. Kehamilan di bagi menjadi triwulan yaitu
triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai sampai minggu ke-13, triwulan
kedua dari minggu ke-14 sampai minggu ke-26, triwulan ketiga dari minggu ke-27
sampai minggu ke 38-40.
2. Perubahan-perubahan
Fisiologis dalam kehamilan
a. Uterus
1) Ukuran
: uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama dibawah pengaruh estrogen dan
progesteron. Hipertropi otot polos uterus, dan serabut-serabut kolagen yang
adapun menjadi higroskopik akibat meningkatnya kadar estrogen sehingga uterus
dapat mengikuti pertubuhan janin. (Yuni Kusmiyati, dkk, 2009, hal 54 & 55).
2) Berat
: pada perempuan tidak hamil uterus mempunyai berat 70 g dan kapasitas 10 ml
atau kurang. Selama kehamilan, uterus akan berubah menjadi suatu organ yang
mampu menampung janin, palsenta, dan cairan amnion rata-rata pada akhir
kehamilan volume totalnya mencapai 5 l bahkan dapat 20 l atau lebih dengan
berat rata-rata 1100 g. (Sarwono Prawirohardjo, 2008, hal 175).
3) Bentuk
dan konsistensi: pada kehamilan 8 minggu uterus membesar sebesar telur bebek
dan pada kehamilan 12 minggu kira-kira sebesar telur angsa. Pada kehamilan 16
minggu bentuk uterus menjadi bulat dan berangsur-angsur berbentuk lonjong
seperti telur. (Yuni Kusmiyati, dkk, 2009, hal 55 & 63).
4) Posisi
rahim dalam kehamilan: pada permulaan kehamilan dalam letak antefleksi atau
retrofleksi. Pada 4 bulan kehamilan rahim berada dalam rongga pelvis, setelah
itu mulai memasuki rongga perut yang dalam pembesarannya dapat mencapai batas
organ hati.
5) Vaskularisasi
: arteri uterine dan arteri ovarika bertambah, baik dalam diameter, panjang dan
anak-anak cabangnya. Pembuluh darah balik (vena) mengembang dan bertambah.
6) Dinding
perut (Abdominal Wall) : pembesaran rahim menimbulkan peregangan dan
menyebabkan robeknya serabut elastis di bawah kulit sehingga timbul striae
gravidarum.
Gambar
1. Pembesaran uterus
Sumber :
Sarwonon Prawirohardjo, 2008
b. Indung
Telur (ovarium)
Pada
permulaan kehamilan masih terdapat korpus
luteum graviditatum,korpus luteum graviditatum berdiameter kira-kira 3 cm,
kemudian dia mengecil setelah plasenta terbentuk. Korpus luteum ini mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron.
Pada
usia kehamilan 16 minggu, plasenta mulai terbentuk dan menggantikan fungsi korpus luteum graviditatum. (Yuni
Kusmiyati, dkk, 2009, hal 55 & 64).
c. Serviks
Uteri
Serviks
uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena hormon estrogen. Jika
korpus uteri mengandung lebih banyak jaringan otot, maka serviks lebih banyak
mengandung jaringan ikat. Jaringan ikat pada serviks ini banyak mengandung
kolagen. Akibat kadar estrogen meningkat dan adanya hipervaskularisasi serta
meningkatnya suplai darah maka konsistensi serviks menjadi lunak yang disebut tanda Goodell. Selama minggu-minggu awal
kehamilan, peningkatan aliran darah uterus dan limfe mengakibatkan oedema dan
kongesti panggul. Akibatnya uterus, serviks dan itmus melunak secara progresif
dan serviks menjadi kebiruan (tanda
Chadwick, tanda kemungkinan hamil), perlunakan itmus menyebabkan antefleksi
uterus berlebihan selama tiga bulan pertama kehamilan. Pada trimester II
konsistensi serviks menjadi lunak dan kelenjar-kelenjar di serviks akan
berfungsi lebih dan akan mengeluarkan sekresi lebih banyak. (Yuni Kusmiyati,
dkk, 2009, hal 54 & 63).
d. Vagina
Selama
kehamilan peningkatan vaskularisasi dan hiperemia terlihat jelas pada kulit dan
otot-otot di perineum dan vulva, sehingga pada vagina akan terlihat berwarna
keunguan yang dikenal dengan tanda Chadwick.
Perubahan ini meliputi penipisan mukosa dan hilangnya sejumlah jaringan ikat
dan hipertrofi dari sel-sel otot polos.
Dinding
vagina mengalami banyak perubahan yang merupakan persiapan untuk mengalami
peregangan pada waktu persalinan dengan meningkatnya ketebalan mukosa,
mengendornya jaringan ikat, dan hipertrofi sel otot polos. Perubahan ini
mengakibatkan bertambah panjangnya dinding vagina. Papilla mukosa juga
mengalami hipertrofi dengan gambaran seperti paku sepatu.
Peningkatan
volume sekresi vagina juga terjadi, di manan sekresi akan berwarna keputihan,
menebal, dan pH antara 3,5-6 yang merupakan hasil dari peningkatan produksi
asam laktat glikogen yang dihasilkan oleh epitel vagina sebagai aksi dari Lactobacillus acidophilus. (Sarwono
Prawirohardjo, 2008, hal 178-179).
e. Payudara
Pada awal kehamilan
perempuan akan merasakan payudaranya menjadi lebih lunak. Setelah bulan kedua
payudara akan bertambah ukuranya dan vena-vena di bawah kulit akan lebih
terlihat. Puting payudara akan lebih besar, kehitaman, dan tegak. Setelah bulan
pertama suatu cairan berwarna kekuningan yang disebut kolustrum dapat keluar.
Kolustrum ini berasal dari kelenjar-kelenjar asinus yang mulai bersekresi.
Meskipun dapat dikeluarkan, air susu belum dapat diproduksi karena hormon
prolaktin ditekan oleh prolactin
inhibiting hormone. Setelah persalinan kadar progesteron dan estrogen akan
menurun sehingga pengaruh inhibisi progesteron terhadap α-laktalbulmin akan
hilang. Peningkatan prolaktin akan merangsang sintesis laktose dan pada
akhirnya akan meningkatkan produksi air susu. Pada bulan yang sama areola akan
lebih besar dan kehitaman. Kelenjar Montgomery,
yaitu kelenjar sebasea dari areola, akan membesar dan cenderung untuk menonjol
keluar. Jika payudara makin membesar, striae seperti yang terlihat pada perut
akan muncul. Ukuran payudara sebelum kehamilan tidak mempunyai hubungan dengan
banyaknya air susu yang akan dihasilkan. (Sarwono Prawirohardjo, 2008, hal
179).
f. Sistem
Sirkulasi Darah
1) Volume
Darah
Volume darah semakin
meningkat di mana jumlah serum darah lebih besar dari pertumbuhan sel darah,
sehingga terjadi semacam pengenceran darah (hemodilusi), dengan puncaknya pada
umur hamil 32-34 minggu. Serum darah (volume darah) bertambah sebesar 25%
sampai 30% sedangkan sel darah bertambah sekitar 20%.
2)
Protein darah
Protein darah serum berubah
jumlah protein, albumin dan gammaglobulin menurun dalam triwulan pertama dan
akan meningkat secara bertahap pada akhir kehamilan. Beta globulin dan
fibrinogen terus meningkat.
3) Haemoglobin
Haemoglobin cenderung
menurun oleh karena kenaikan relatif volume darah.
4) Nadi
dan tekanan darah
Tekanan darah arteri
cenderung menurun terutama selama trimester II dan kemudian naik lagi seperti
pada keadaan pra hamil.
5) Jantung
Pompa jantung mulai naik
kira-kira 30% kehamilan 3 bulan dan menurun lagi pada minggu terakhir kehamilan.
(Salmah, dkk, 2006, hal 51-53)
g. Sistem
Pernapasan
Frekuensi pernafasan
hanya mengalami sedikit perubahan selama kehamilan, tetapi volume tidal, volume
ventilasi per menit dan mengambilan oksigen per menit akan bertambah secara
signifikan pada kehamilan lanjut. Perubahan ini akan mencapai puncaknya pada
minggu ke-37 dan akan kembali hampir seperti sedia kala dalam 24 minggu setelah
persalinan.(Sarwono Prawirohardjo, 2008, hal 185).
Pada 32 minggu ke
atas karena usus-usus tertekan uterus yang membesar ke arah diafragma sehingga
diafragma kurang leluasa bergerak mengakibatkan kebanyakan wanita hamil
mengalami derajat kesulitan bernafas. (Yuni Kusmiyati, dkk, 2009, hal 66).
h. Sistem
Pencernaan (Traktus Digestivus).
Perubaha rasa tidak
enak diuluh hati disebabkan karena perubahan posisi lambung dan aliran balik
asam lambung ke esofagus bagian bawah. Produksi asam lambung menurun. Sering
terjadi nausea dan muntah karena pengaruh HCG, tonus otot-otot traktus
digestivus menurun sehingga motilitas seluruh traktus digestivus juga
berkurang. (Yuni Kusmiyati, dkk, 2009, hal 58).
i. Sistem
Perkemihan (traktus urinarius)
Pada bulan-bulan pertama
kehamilan kandung kemih akan tertekan oleh uterus yang mulai membesar sehingga
menimbulkan sering berkemih. Keadaan ini akan hilang dengan makin tuanya
kehamilan bila uterus keluar dari rongga panggul. Pada akhir kehamilan, jika
kepala janin sudah mulai turun ke pintu atas panggul, keluhan itu akan timbul
kembali. (Sarwono Prawirohardjo, 2008, hal 185).
j. Kulit
(integumen)
Perubahan
keseimbangan hormon dan peregangan mekanis menyebabkan timbulnya beberapa
perubahan dalam sistem integumen selama masa kehamilan. Perubahan yang umum
terjadi adalah peningkatan ketebalan kulit, dan lemak sub dermal, hiperpigmentasi,
pertumbuhan rambut dan kuku, percepatan aktivitas kelenjar kering dan kelenjar
sebasea, peningkatan sirkulasi dan aktivitas vasomotor. Jaringan elastik kulit
mudah pecah, menyebabkan strie gravidarum, atau tanda regangan. Respon alergi
kulit menigkat.
Linea
alba pada kehamilan menjadi hitam dikenal sebagai Linea Grisea. Linea nigra adalah garis pigmentasi dari simfisis
pubis sampai ke bagian atas fundus digaris tengah tubuh. Kulit perut juga
tambak seolah-olah retak-retak, warnanya berubah agak hiperemik dan
kebiru-biruan disebut striae livide. Setelah partus, striae livide ini berubah
menjadi putih disebut striae albicans. Pada seorang multigravida sering tampak
striae livide dan bersama dengan striae albicans. (Yuni Kusmiyati, dkk, 2009,
hal 60).
k. Perubahan
metabolisme
Pada
wanita hamil basal metabolic rate (BMR) meninggat. BMR meningkat hingga 15-20%
yang umumnya terjadi pada triwulan terakhir. BMR kembali setelah hari kelima
atau keenam pasca partum. Peningkatan BMR mencerminkan peningkatan kebutuhan
oksigen di unit janin, plasenta, uterus serta peningkatan konsumsi oksigen
akibat peningkatan kerja jantung ibu. Pada kehamilan tahap awal banyak wanita
mengeluh merasa lemah dan letih setelah melakukan aktivitas ringan. (Yuni
Kusmiyati, dkk, 2009, hal 61)
l. Kenaikan
berat badan
Pada
2 bulan pertama kenaikan badan belum terlihat, tetapi baru tambak dalam bulan
ketiga. Pada trimester II kenaikan berat badan 0,4-0,5 kg perminggu selama sisa
kehamilan. Pada trimester III terjadi kenaikan berat badan sekitar 5,5 kg,
penambahan berat badan dari mulai awal kehamilan adalah 11-12 kg. (Yuni Kusmiyati,
dkk, 2009, hal 61, & 65).
3. Perubahan-perubahan
Psikologi Wanita Hamil
a. Trimester
Pertama (1 - 3 bulan)
Pada
trimester pertama seorang ibu akan selalu mencari tanda-tanda untuk lebih
meyakinkan bahwa dirinya memang hamil. Setia perubahan yang terjadi pada
tubunya akan selalu diperhatikan dengan seksam. Karena perutnya masih kecil,
Kehamilan merupakan rahasia seorang ibu yang dapat diberitahukannya kepada
orang lain atau mungkin dirahasiakannya. (Yuni Kusmiyati, dkk, 2009, hal 70).
b. Trimester
Kedua (4- 6 bulan)
Pada
trimester ini ibu sudah menerima kehamilannya dan dapat mulai menggunakan
energi dan pikirannya secara lebih konstruktif. Pada trimester ini pula ibu dapat
merasakan pergerakan bayinya, dan ibu mulai merasakan kehadiran bayinya sebagai
seseorang diluar dari dirinya sendiri. (Yuni Kusmiyati, dkk, 2009, hal 72).
c.
Trimester Ketiga (7 - 9
bulan)
Trimester
ketiga sering disebut periode penantian. Sejumlah ketakutan terlihat selama
trimester ketiga. Wanita mungkin khawatir terhadap hidupnya dan bayinya, dia
tidak akan tahu kapan di melahirkan. Ibu mulai merasa takut akan rasa sakit dan
bahaya fisik yang akan timbul pada waktu melahirkan. Rasa tidak nyaman timbul
kembali karena perubahan body image yaitu merasa dirinya aneh dan jelek. Ibu
memerlukan dukungan dari suami, keluarga dan bidan. (Yuni Kusmiyati, dkk, 2009,
hal 73).
4. Diagnosis
Kehamilan
a.
Tanda pasti kehamilan
1)
Terdengar DJJ.
2)
Terasa gerakan janin.
3)
Pada pemeriksaan USG terlihat adanya kantong kehamilan,
ada gambaran embrio.
4)
Pada pemeriksaan rontgen terlihat adanya rangka janin
(> 16 minggu).
b.
Tanda tidak pasti kehamilan
1)
Rahim
membesar.
2)
Tanda Hegar.
Gambar 2. Tanda hegar
Sumber : Sarwonon Prawirohardjo,
2008
3)
Tanda Chadwick,
yaitu warna kebiruan pada serviks, vagina dan vulva.
4)
Tanda piskacek, yaitu pembesaran uterus ke
salah satu arah sehingga menonjol jelas ke arah pembesaran tersebut.
Gambar 3. Tanda Piskacek
Sumber : Ari Sulistyawati, 2009
5)
Braxton Hicks.
Bila uterus dirasakan (distimulasi dengan diraba) akan
mudah berkontraksi.
6)
BMR meningkat.
7)
Baliottement positif.
Jika dilakukan pembesaran palpasi di perut ibu
dengan cara menggoyang-goyangkan di salah satu sisi, maka akan terasa
“pantulan” di sisi yang lain.
Gambar
4. Cara pemeriksaan Ballottement. (a) Dengan Cara
Palpasi. (b) Dengan Cara
Pemeriksaan Dalam.
Sumber : Ari Sulistyawati, 2009
8)
Tes urine kehamilan (tes HCG) positif.
Tes urine dilaksanakan minimal satu minggu setelah
terjadi pembuahan. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah mengetahui kadar hormon
gonadotropin dala urine.
c.
Dugaan hamil
1)
Amenore/tidak mengalami menstruasi sesuai siklus
(terlambat haid).
2)
Nausea, anoreksia, emesis, dan hipersalivasi.
3)
Pusing.
4)
Miksing/sering buang air kecil.
5)
Obstipasi.
6)
Hiperpigmentasi: striae, cloasma, linea nigra.
7)
Varises.
8)
Payudara menegang.
9)
Perubahan perasan.
10)
BB bertambah.
(Ari
Sulistyawati, 2009, hal 83-85).
B. Tinjauan Umum Tentang
ANC (Antenatal Care)
1. Pengertian
ANC (Antenatal Care) adalah upaya
preventif program pelayanan kesehatan obstetrik untuk optimalisasi luaran
maternal dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin selama
kehamilan. (Sarwono Prawirohardjo, 2008, hal 278).
2. Tujuan ANC (Antenatal
Care)
a.
Memantau kemajuan kehamilan, memastikan kesehatan ibu
dan tumbuh kembang bayi.
b.
Meningkatkan dan mempertahankan ksehatan fisik, mental,
serta sosial dan bayi.
c.
Menemukan sejak dini bila ada masalah atau gangguan dan
komplikasi yang mungkin terjadi selama kehamilan.
d.
Mempersiapkan kehamilan dan persalinan dengan selamat,
baik ibu maupun bayi, dengan trauma seminimal mungkin.
e.
Mempersiapkan ibu agar masa nifas dan pemberian ASI
eksklusif berjalan normal.
f.
Mempersiapkan ibu dan keluarga dapat berperan dengan
baik dalam memelihara bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal. (Asrinah,
dkk, 2010, hal 5).
3. Standar pelayanan ANC
(Antenatal Care)
a. Terdapat 6 standar
dalam standar pelayanan antenatal sebagai berikut :
1) Standar 1 :
Identifikasi ibu hamil
Biadan melakuan kunjungan rumah, berinteraksi
dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan memotivasi
ibu, suami, dan anggota keluarganya agar mendorong ibu untuk memeriksakan
kehamilannya sejak dini dan secara teratur.
2) Standar 2 : Pemeriksaan
dan pemantauan antenatal
Bidan memberikan sedikitnya 4 kali
pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliputi anamnesa serta pemantauan ibu dan
janin secara seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangsung normal.
Bidan juga harus mengenal kehamilan resti/kelainan, terutama anemia, kurang
gizi, hipertensi, PMS/infeksi HIV, memberikan pelayanan imunisasi, nasihat dan
penyuluhan kesehatan serta tugas terkait lain yang diberikan oleh puskesmas.
3) Standar 3 : Palpasi
abdominal
Bidan
melakukan pemeriksaan abdominal secara seksama dan melakukan palpasi untuk
memperkirakan usia kehamilan dan bila usia kehamilan bertambah, memeriksa
posisi, bagian terendah janin dan masuknya kepala janin rongga panggul, mencari
kelainan letak, melakukan rujukan tepat waktu.
(a) (b) (c)
Gambar 5. (a) cara melakukan palpasi Leopold I. (b) Cara
melakukan palpasi Leopold II. (c) Cara melakukan palpasi Leopold III.
Sumber : Ari
Sulistyawati, 2009
Gambar 6. Cara pmeriksaa Leopold IV. (a) Konvergen
Kepala Belum Masuk Panggul. (b) Divergen, Kepala Sudah Masuk Panggul
Sumber : Ari
Sulistyawati, 2009
4) Standar 4 : Pengelolaan
anemia pada kehamilan
Bidan melakukan tindakan
pencegahan, penemuan, penanganan dan/atau rujukan semua kasus anemia pada
kehamilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
5) Standar 5 : Pengelolaan
dini hipertensi pada kehamilan
Bidan menemukan secara dini setiap
kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan mengenali tanda-tanda serta gejala
preeklamsia lainnya, lalu mengambil tindakan yang tepat dan merujuknya.
6) Standar 6 : Persiapan
persalinan
Bidan memberikan saran yang tepat
kepada ibu hamil, suami serta keluarganya pada trimester ketiga untuk
memastikan bahwa persiapa yang bersih dan aman serta suasana yang menyenangkan
akan direncanakan dengan baik, di samping persiapan transportasi dan biaya
untuk merujuk bila terjadi keadaan gawat darurat. (Mufdlilah, 2009, hal 31-34)
b. Pelayanan standar 10T.
Sesuai dengan kebijakan Departemen Kesehatan, standar minimal pelayanan pada
ibu hamil yaitu :
1) Timbang berat badan
2) Pengukuran Tekanan darah.
3) Pengukuran TFU
4) Tes laboratoriume.
5) Tatalaksana kasus.
6) Tabungan persalinang
7) Pemberian imunisasi TT (Tetanus Toxoid) lengkap.
8) Pemberian table besi
(Fe) minimal 90 table selama kehamilan dengan dosis satu table setiap harinya.
9) Temu wicara
10) Tes terhadap penyakit menular
seksual (Dinas Kesehatan ).
C.
Tinjauan Umum Tentang Kekurangan
Energi Kalori (KEK)
1. Definisi
Menurut Depkes RI (2002) dalam Program Perbaikan Gizi
Makro menyatakan bahwa Kurang Energi Kronis merupakan keadaan dimana ibu
penderita kekurangan makanan yang berlangsung menahun (kronis) yang
mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu. KEK dapat terjadi pada
wanita usia subur (WUS) dan pada ibu hamil (bumil). Gizi kurang kronik
disebabkan karena tidak mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup atau
makanan yang baik dalam periode/kurun waktu yang lama untuk mendapatkan kalori
dan protein dalam jumlah yang cukup, atau juga disebabkan menderita muntaber
atau penyakit kronis lainnya. Ibu KEK adalah ibu yang ukuran
Lilanya <23,5 cm dan dengan salah atu atau beberapa kriteria berat badan ibu
sebelum hamil <42 kg, tinggi badan ibu <145 cm, dan ibu menderita anemia
(Hb <11 gr%). (Weni, 2010).
2. Kebutuhan
Gizi Ibu Hamil
Pemenuhan
kebutuhan nutrisi yang cukup sangat mutlak dibutuhkan oleh ibu hamil agar bisa
memenuhi kebutuhan atau nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi yang
dikandungnya, sekaligus bagi persiapan fisik ibu untuk menghadapi persalianan
dengan aman. Selama proses kehamilan, bayi sangat membutuhkan zat-zat penting
yang hanya dapat dipenuhi dari ibu.(Asrinah, dkk, 2010, hal 87).
Kehamilan
merupakan masa yang sangat penting, karena pada masa ini kualitas seorang anak
ditentukan. Pemeliharaan kehamilan dimulai dari perencanaan menu yang sangat
benar. Masukan gizi pada ibu hamil sangat menentukan kesehatannya dan janin
yang dikandungnya. Janin sangat tergantung kepada ibunya, untuk pernapasan,
pertumbuhan, dan untuk melindunginya dari penyakit. Kebutuhan gizi pada masa
kehamilan berbeda dengan masa sebelum hamil, peningkatan kebutuhan gizi hamil
karena pertumbuhan rahim, payudara, volume darah, palsenta, air ketuban dan
pertumbuhan janin. (Erna Francin Paath, dkk, 2005, hal 53)
Pada
masa usia kehamilan muda, tambahan gizi dalam bentuk vitamin dan mineral sangat
diperlukan, sedangkan kebutuhan akan kalori dan protein sangat diperlukan pada
minggu kedelapan sampai kelahiran selain dalam masa kehamilan yang memerlukan
tambahan gizi yang sangat banyak, ibu juga memerlukan tambahan yang lebih besar
lagi menjelang kelahiran dan menyusui. Seorang ibu hamil yang mengalami
kekurangan gizi, maka bayi yang dilahirkan akan memiliki berat badan yang
rendah (BBLR), mudah sakit-sakitan, dan mempengaruhi kecerdasan. (Atikah
Proverawati, dkk, 2009, hal 38).
a. Energi
Energi yang tersembunyi dalam protein ditaksir sebanyak
5180 kkal, dan lemak 36.337 Kkal. Agar energi ini bisa ditabung masih
dibutuhkan tambahan energi sebanyak 26.244 Kkal, yang digunakan untuk mengubah
energi yang terikat dalam makanan menjadi energi yang bisa dimetabolisir.
Dengan demikian jumlah total energi yang harus tersedia selama kehamilan adalah
74.537 Kkal. NAS membulatkan menjadi 80.000 Kkal. Sedangakan
Durin dkk., membulatkan ke bawah menjadi 70.000 kkal. Dia bahkan menganjurkan
kisaran 69.000-70.000 kkal. Untuk
memperoleh besaran energi per hari, hasil penjumlahan ini kemudian dibagi
dengan angka 250 (perkiraaan lamanya kehamilan dalam hari) sehingga diperoleh
angka 300 Kkal, atau jika mengacu pada hitungan Durin
(1992) dkk., 100-150 kkal sehari.
Kebutuhan energi pada trimester I meningkat secara
minimal. Kemudian sepanjang trimester II dan III kebutuhan energi terus
meningkat sampai akhir kehamilan. Energi tambahan selama trimester II
diperlukan untuk pemekaran jaringan ibu seperti penambahan volume darah,
pertumbuhan uterus, dan payudara, serta penumpukan lemak. Selama trimester III
energi tambahan digunakan untuk pertumbuhan janin dan plasenta.
Karena banyaknya perbedaan kebutuhan energi selama hamil,
maka WHO menganjurkan jumlah tambahan sebesar 150 Kkal sehari pada trimester I,
350 Kkal sehari pada trimester II dan III. Di Kanada, penambahan untuk
trimester I sebesar 100 Kkal dan 300 Kkal untuk trimester II dan III. Sementara
di Indonesia berdasarkan Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI tahun 1998
ditentukan angka 285 Kkal perhari selama kehamilan. Angka ini tentunya tidak
termasuk penambahan akibat perubahan temperatur ruangan, kegiatan fisik, dan
pertumbuhan. Patokan ini berlaku bagi mereka yang tidak merubah kegiatan fisik
selama hamil. (Arisman, 2007, hal 14-15)
b. Protein
Sama halnya dengan energi, kebutuhan wanita hamil akan
protein juga meningkat, bahkan mencapai 68% dari sebelum hamil. Jumlah protein
yang harus tersedia sampai akhir kehamilan diperkirakan sebanyak 925 g yang
tertimbun dalam jaringan ibu, plasenta, serta janin. Di Indonesia melalui Widya
Karya Nasional Pangan dan Gizi V tahun 1993 menganjurkan penambahan protein 12 g/hari selama
kehamilan. Dengan demikian dalam satu hari asupan protein dapat mencapai 75-100
g (sekitar 12% dari jumlah total kalori); atau sekitar 1,3 g/kg
BB/hari (gravida mature), 1,5 g/kg BB/hari (usia 15-18
tahun), dan 1,7 g/kg BB/hari (di bawah 15 tahun).
Bahan pangan yang dijadikan sumber protein sebaiknya
2/3-nya merupakan bahan pangan yang bernilai biologi tinggi, seperti daging tak
berlemak, ikan, telur, susu dan hasil olahannya. Protein yang berasal dari
tumbuhan (nilai biologinya rendah) cukup 1/3 bagian.
(Arisman, 2007, hal 15).
Tambahan
untuk wanita hamil sebesar 9 gram. Kecukupan protein yang dianjurkan untuk
wanita Indonesia umur 20-29 tahun dengan berat badan 47 kg sebanyak 41 gram
protein sehari atau sekitar 0,8 gram/kg/hari, sebagai protein campuran (Hj.
Salmah, dkk, 2006, hal 113-114).
c. Lemak
Pertumbuhan
dan perkembangan janin selama dalam kandungan membutuhkan lemak sebagai sumber
kalori utama. Lemak dibutuhkn tubuh terutama untuk membentuk energi dan serta
perkembangan sistem syaraf janin. Oleh karena itu, ibu hamil tidak boleh sampai
kurang mengkonsumsi lemak tubuh. Sebaliknya, bila asupannya berlebihan dikhawatirkan
berat badan ibu hamil akan meningkat tajam. Karena itu ibu hamil dianjurkan
makan makanan yang mengandung lemak tidak lebih dari 25% dari seluruh kalori
yang dikonsumsi sehari. (Atikah Proverawati, dkk, 2009, hal 40).
Selai
mensuplai energi, lemak berfungsi sebagai cadangan energi tubuh, pelindung
organ tubuh dan menyediakan asam-asam lemak esensial yang berfungsi sebagai
anti peradangan, bagi kelancaran aliran darah dan fungsi sendi. Termasuk dalam
asam lemak esensial adalah asam lemak omega 3 (asam linolenat) dan asam lemak
emega 6 (asam linoleat). (Savitri Sayogo, 2007, hal 27).
Asal
lemak esensial dalam diet memberikan manfaat jangka panjang untuk setiap orang.
Beberapa asam lemak esensial ditemukan dalam sayuran dan tanaman, lainnya
terdapat dalam minyak ikan. Jika dikonsumsi oleh wanita selama kehamilan dan
menyusui, asam lemak esensial berperan dalam perkembangan neurologi yang sehat
pada bayi. (Penny Simkin, dkk, 2008, hal 79).
d. Vitamin
dan mineral
Bagi
pertumbuhan janin yang baik dibutuhkan berbagai vitamin dan mineral seperti
vitamin C, asam folat, zat besi, kalsium, zink, angka kecukupan yang dianjurkan
oleh Nasional Research Counil,US National
Academy of Sciences (1980), menunjukkan presentase tambahan gizi ibu hamil
ialah energi 15%, protein 68%, vitamin A 25%, vitamin D 100%, vitamin E 25%,
vitamin C 33%, untuk vitamin kelompok B-kompleks 40%, tiamin 25%, riboflavin
15%, niasin 30%, vitamin B6 100%, asam folat 33% dan vitami B12, kalsium,
fosfor dan magnesium 50%, zat besi 300% zink 33% dan iodium 16%.
Tambahan
vitamin dan mineral bagi ibu hamil tidak melebihi 100% terkecuali zat besi.
Tambahan makanan lebih baik dikonsumsi dalam bentu cairan seperti formula
dengan kandungan zay gizinya telah sesuai dengan kebutuhan ibu hamil. (Erna
francin Paath, dkk, 2005, hal 57-58).
e. Kalsium
Untuk
pembentukan tulang dan gigi bayi. Kebutuhan kalsium ibu hamil adalah sebesar
500 mg sehari. (Yuni Kusmiyati, dkk, 2009, hal 82). kalsium meningkatkan
mineralisasi rangka janin dan gigi-gigi. Janin membutuhkan kalsium 66% lebih
besar selama trimester ketiga (saat gigi-gigi terbentuk dan pertumbuhan rangka
terjadi paling cepat) di bandingkan pada awal perkembangannya. Kalsium juga
disimpan dalam tulang-tulang ibu sebagai cadangan untuk memproduksi air susu
ibu.(Penny Simkin, dkk, 2008, hal 77). Ibu yang tidak mengonsumsi cukup kalsium
dari makanan memerlukan suplemen kalsium. (Erna Francin Paath, dkk, 2005, hal
39).
Pada
wanita hamil dengan gizi buruk perlu mendapat gizi yang adekuat baik jumlah
maupun susunan menu atau kualitasnya serta mendapat akses pendidikan kesehatan
tentang gizi. Akibat malnutrisi pada kehamilan yaitu berat otak dan
bagian-bagian otak serta jumlah sel otak kurang dari normal. Setelah lahir akan
menjadi Inteligensia (IQ) dibawah rata-rata. Karena adanya malnutrisi pada ibu
hamil, volume darah menjadi berkurang, aliran darah ke uterus
dan plasenta berkurang, ukuran plasenta berkurang dan transfer nutrient
melalui plasenta berkurang sehingga janin tumbuh lambat atau terganggu (IUGR).
(Yuni Kusmiyati, dkk, 2009, hal 83).
3. Pengaruh
status gizi terhadap kehamilan
a. Janin
: kegagaglan
pertumbuhan, BBLR, prematur, lahi mati, cacat bawaan.Keguguran.
b. Ibu
hamil : KEK, anemia, produksi ASI
kurang.
c.Persalinan : Sektio
sesario, pendarahan, persalinan lama. (Desi purwitasari, dkk, 2009, hal 37)
4. Faktor-faktor yang
berhubungan dengan keadaan kekurangan energi kalori (KEK)
Status
gizi merupakan hal yang penting diperhatikan pada masa kehamilan, karena faktor
gizi sangat berpengaruh terhadap status kesehatan ibu selama hamil serta
guna pertumbuhan dan perkembangan janin.
Hubungan antara gizi ibu hamil dan kesejahteraan janin merupakan hal yang
penting untuk diperhatikan. (Yuni Kusmiyati, dkk, 2009, hal 82).
a. Faktor
Sosial Ekonomi
Ekonomi
seseorang mempengaruhi dalam pemilihan makanan yang akan dikonsumsi
sehari-harinya. Seseorang dengan ekonomi yang tinggi kemudian hamil maka
kemungkinan besar sekali gizi yang dibutuhan tercukupi ditambah lagi adanya
pemeriksaan membuat gizi ibu hamil semakin terpantau (Weni, 2010). Faktor yang
berperan dalam menentukan status kesehatan seseorang adalah tingkat sosial
ekonomi (FKM UI, 2007).
b. Pendidikan
Pendidikan
sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan
yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta
didik (Umar, 2005). Faktor pendidikan mempengaruhi pola makan ibu hamil,
tingkat pendidikan yang lebih tinggi diharapkan pengetahuan atau informasi
tentang gizi yang dimiliki lebih baik sehingga bisa memenuhi asupan gizinya
(FKM UI, 2007).
c. Pekerjaan
Pekerjaan
adalah sesuatu perbuatan atau melakukan sesuatu yang dilakukan untuk mencari
nafkah guna untuk kehidupan (Kamus Besar Indonesia, 2008). Ibu yang sedang
hamil harus mengurangi beban kerja yang terlalu berat karena akan memberikan
dampak kurang baik terhadap kehamilannya (FKM UI, 2007).
d. Pendapatan
Penerimaan
baik berupa uang maupun barang, baik dari pihak lain maupun pihak sendiri dari
pekerjan atau aktivitas yang kita lakukan dan dengan dinilai sebuah uang atas
harga yang berlaku pada saat ini. Pendapatan seorang dapat dikatakan meningkat
apabila kebutuhan pokok seorangpun akan meningkat. Suatu kegiatan yang
dilakukan untuk menafkahi diri dan keluarganya dimana pekerjaan tersebut tidak
ada yang mengatur dan dia bebas karena tidak ada etika yang mengatur.
Kemampuan
keluarga untuk membeli bahan makanan antara lain tergantung pada besar kecilnya
pendapatan keluarga, harga bahan makanan itu sendiri, serta tingkat penggelolaan
sumber daya lahan dan pekarangan. Keluarga dengan pendapatan terbatas
kemungkinan besar akan kurang dapat memenuhi kebutuhan akan makanannya terutama
untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dalam tubuhnya. Tingkat pendapatan dapat
menentukan pola makan. Pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan
kualitas dan kuantitas hidangan. Semakin banyak mempunyai uang berarti semakin
baik makanan yang diperoleh dengan kata lain semakin tinggi penghasilan,
semakin besar pula prosentase dari penghasilan tersebut untuk membeli buah,
sayuran dan beberapa jenis bahan makanan lainnya (FKM UI, 2007).
e. Faktor Jarak
Kelahiran
Ibu
dikatakan terlalu sering melahirkan bila jaraknya kurang dari 2 tahun.
Penelitian menunjukkan bahwa apabila keluarga dapat mengatur jarak antara kelahiran
anaknya lebih dari 2 tahun maka anak akan memiliki probabilitas hidup lebih
tinggi dan kondisi anaknya lebih sehat dibanding anak dengan jarak kelahiran
dibawah 2 tahun. Jarak melahirkan yang terlalu dekat akan menyebabkan kualitas
janin/anak yang rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu. Ibu tidak
memperoleh kesempatan untuk memperbaiki tubuhnya sendiri (ibu memerlukan energi
yang cukup untuk memulihkan keadaan setelah melahirkan anaknya). Dengan
mengandung kembali maka akan menimbulkan masalah gizi ibu dan janin/bayi
berikut yang dikandung. Selain itu kesehatan fisik dan rahim ibu yang masih
menyusui sehingga dapat mempengaruhi KEK pada ibu hamil. Ibu hamil dengan
persalinan terakhir ≥10 tahun yang lalu seolah-olah menghadapi kehamilan atau persalinan
yang pertama lagi. Umur ibu biasanya lebih bertambah tua. Apabila asupan gizi
ibu tidak terpenuhi maka dapat mempengaruhi KEK pada ibu hamil. (Atikah
Proverawati, dkk, 2009, hal 52-53).
f. Faktor
Paritas
Paritas
(jumlah anak) merupakan keadaan wanita yang berkaitan dengan jumlah anak yang
dilahirkan. Paritas juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status
gizi ibu hamil. Paritas merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap hasil
konsepsi. Perlu diwaspadai karena ibu pernah hamil atau melahirkan anak 4 kali
atau lebih, maka kemungkinan banyak akan ditemui keadaan :
a) Kesehatan
terganggu : anemia, kurang gizi.
b) Kekendoran
pada dinding perut dan dinding rahim.
(Roechjati P, 2003).
g. Faktor umur
Semakin muda
dan semakin tua umur seorang ibu yang sedang hamil, akan berpengaruh terhadap
kebutuhan gizi yang diperlukan. Umur muda (<20 tahun) perlu tambahan gizi
yang banyak karena selain digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan darinya
sendiri juga harus berbagi dengan janin yang dikandung. Sedangkan untuk umur
(>35 Tahun) yang tua perlu energi yang besar juga karena fungsi organ yang
makin melemah dan diharuskan untuk bekerja maksimal maka menerlukan tambahan
energi yang cukup guna mendukung kehamilan yang sedang berlangsung. (Atikah
Proverawati, dkk, 2009, hal 52-53).
5. Pengukuran
Setatus Gizi
Metode
pengukuran status gizi adalah suatu pengukuran terhadap aspek yang dapat
menjadi indikator penilaian status gizi, kemudian dibandingkan dengan standar baku
yang ada. Sistem penilaian status gizi dibedakan menjadi 2 yaitu:
a. Pengkuran
secara tidak langsung
Penilaian status gizi secara
tidak langsung (melalui hal lain selain individu tersebut) dapat dibagi tiga
yaitu :
1) Survey
konsumsi makanan
Survey konsumsi makanan
adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah
dan jenis zat gizi yang dikonsumsi.
2) Statistik
vital
Pengukuran status gizi
dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan
sperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat
penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi.
3) Faktor
ekologi
Faktor ekologi adalah
malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi multifaktor dari
faktor lingkungan fisik, biologi, ekonomi, politik, dan budaya.
b. Pengukuran
langsung (pengukuran yang langsung kepada individu terkait)
1) Antropometri
Secara umum antropometri
artiya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri
gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi
tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
2) Klinis
Metode ini didasarkan atas
perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidak cukupan zat
gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (superficial epithelial
tissues) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang
dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
3) Biokimia
Penilaian status gizi dengan
biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang
dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan
antara lain: darah, urien, tinja, dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati
dan otot.
4) Biofisik
Penentuan sataus gizi secara
biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi
(khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan. (Atikah
proverawati, dkk, 2009, hal 169-171).
Untuk
mengetahui status gizi ibu hamil digunakan pengukuran secara langsung dengan
menggunakan penilaian antropometri yaitu:
1.
Lingkar
Lengan Atas (LILA)
Lingkar lengan atas merupakan salah satu pilihan untuk
penentuan status gizi. Memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan
lapisan lemak bawah kulit. Lila mencermikan cadangan cadangan energi, sehingga
dapat mencerminkan status KEP pada balita dan kekurangan energi dan kalori
(KEK) pada ibu WUS dan ibu hamil.
Pengukuran lingkar lengan atas ambang batasnya adalah
LILA WUS dengan resiko KEK di indonesia <23,5 cm, pada bayi 0-30 hari ≥9,5
cm, dan balita dengan KEP <12,5 cm. Apabila LILA kurang
dari 23,5 cm artinya wanita tersebut mempunyai risiko KEK dan sebaliknya
apabila LILA lebih dari 23,5 cm berarti wanita itu tidak berisiko dan
dianjurkan untuk tetap mempertahankan keadaan tersebut. (Atikah
proverawati, dkk, 2009, hal 177-178).
Hal-hal
yang harus diperhatikan:
a)
Pengukuran
dilakukan di bagian tengah antara bahu dan siku lengan kiri.
b)
Lengan
harus dalam posisi bebas, lengan baju dan otot lengan dalam keadaan tidak
tegang atau kencang.
c)
Alat pengukur dalam keadaan baik dalam arti
tidak kusut atau sudah dilipat-lipat, sehingga permukaannya sudah tidak rata. (Atikah
Proverawati, dkk, 2009, hal 51).
2.
Berat
Badan
Peningkatan berat badan sangat menentukan kelangsugan
hasil akhir kehamilan. Bila ibu hamil kurus atau gemuk sebelum hamil akan
menimbulkan risiko pada janin terutama apabila peningkatan atau penurunan
sangat menonjol. Bila sangat kurus maka melahirkan bayi berat badan rendah
(BBLR), namun berta badan bayi dari ibu hamil dengan berat badan normal atau
kurus, lebih dipengaruhi oleh peningkatan atau penurunan berat badan selama
hamil. (Salmah, dkk, 2006, hal 111).
Ibu hamil harus memiliki berat badan yang normal karena
akan berpengaruh terhadap anak yang akan dilahirkanya. Ibu yang sedang hamil
dengan kekurangan zat gizi yang penting bagi tubuh akan menyebabkan keguguran,
anak lahir prematur, berat badan bayi rendah, gangguan rahim pada waktu
bersalinan, dan pendarahan setelah persalinan. (Atikah Proverawati, dkk, 2009,
hal 50).
3.
Indeks
Masa Tubuh (IMT)
Berat badan dilihat dari Quatelet atau body mass index
(indeks masa tumuh-IMT). Ibu hamil dengan berat badan di bawah normal sering
dihubungkan dengan abnormalitas kehamilan, berat badan lahir rendah. Sedangkan
berat badan overweight meningkatkan resiko atau komplikasi dalam kehamilan
seperti hipertensi, janin besar sehingga terjadi kesulitan dala persalian. (Yuni
Kusmiyati, dkk, 2009, hal 84).
Penilai
IMT diperoleh dengan:
Rumus : BB (kg) = kg/m2
TB X TB (m)
Ket : BB (kg) :
berat badan sebelum hamil dalam kg
TB (m) : tinggi badan
|
IMT (kg/m2)
|
Total kenaikan berat badan yang disarankan
|
Selama trimester 2 & 3
|
Kurus
(IMT <18,5)
|
12,7-18,1
kg
|
0,5
kg/minggu
|
Normal
(IMT 18,5-22,9)
|
11,3-15,9
kg
|
0,4
kg/minggu
|
Overweight
(IMT 23-29,9)
|
6,8-11,3
kg
|
0,3
kg/minggu
|
Obesitas
(IMT >30)
|
0,2
kg/minggu
|
|
Bayi
Kembar
|
15,9-20,4
kg
|
0,7
kg/minggu
|
Sumber : (Atikah
Proverawati, dkk, 2009, hal 50)
6. Upaya
penanggulangan kekurangan energi kalori (KEK)
Kondisi KEK
pada ibu hamil harus segera di tindak lanjuti sebelum usia kehamilan mencapai
16 minggu. Pemberian makanan tambahan yang Tinggi Kalori dan Tinggi Protein dan
dipadukan dengan penerapan Porsi Kecil tapi Sering, pada faktanya memang
berhasil menekan angka kejadian BBLR di Indonesia. Penambahan 200-450 Kalori
dan 12-20 gram protein dari kebutuhan ibu adalah angka yang mencukupi untuk
memenuhi kebutuhan gizi janin. Meskipun penambahan tersebut secara nyata (95%)
tidak akan membebaskan ibu dari kondisi KEK, bayi dilahirkan dengan berat badan
normal. (Desi Purwitasari, dkk, hal 31).
Kebutuhan
bumil terhadap energi, vitamin maupun mineral meningkat sesuai dengan perubahan
fisiologis ibu terutama pada akhir trimester kedua dimana terjadi proses
hemodelusi yang menyebabkan terjadinya peningkatan volume darah dan
mempengaruhi konsentrasi hemoglobin darah. Pada keadaan normal hal tersebut
dapat diatasi dengan pemberian tablet besi, akan tetapi pada keadaan gizi
kurang bukan saja membutuhkan suplemen energi juga membutuhkan suplemen vitamin
dan zat besi. Keperluan yang meningkat pada masa kehamilan, rendahnya asupan
protein hewani serta tingginya konsumsi serat/kandungan fitat dari
tumbuh-tumbuhan serta protein nabati merupakan salah satu faktor penyebab
terjadinya anemia besi. (Atikah
Proverawati, dkk, 2009, hal 50)
7. Pencegahan
KEK
Makan
makanan bergizi dengan pola makanan yang baik. Pola makanan yang baik bagi ibu
hamil harus memenuhi sumber karbohirat, protein, dan lemak serta vitamin dan
mineral, untuk mengganti nasi dapat digunakan jagung, ubi jalar, ubi rebus,
roti dengan sedikit lapisan selai. Untuk mengganti protein hewani dapat
digunakan daging, ayam, dan telur. (Erna Francin Paath, dkk, 2005, hal 93).
Perlunya
menu seimbang, menu seimbang bagi ibu hamil adalah sumber zat tenaga 9 porsi
per hari, zat pembangun 10 porsi per hari, dan zat pengatur 6 porsi per hari.
untuk ibu hamil harus cukup kalori, protein, lemak,vitamin, dan mineral. Selain
itu muda dicerna dan cukup serat dan cairan. (Desi Purwitasari, dkk, 2009, hal
34 & 38).
Tabel
2. Jumlah bahan makanan untuk ibu hamil
Bahan makanan
|
Tdk
hamil/hamil trimester I (gr)
|
Hamil
trimester II dan III (gr)
|
Beras
Protein hewani
Telur
Protein nabati
Kacang-kacangan
Sayuran
Buah
Minyak
Gula
Susu bubuk
|
250 gr = nasi 500 gr/1,5 gls
100 (2 potong)
50 (1 butir)
100 (4 potong)
25 (2,5 sdm
200 (2 gelas)
200 (2 potong)
25 (2,5 sdm)
25 (2,5 sdm)
25 (2,5 sdm)
|
25 gr = nasi 50 gr/1,5 gls
50 (1 potong)
-
50 (2 potong)
25 (2,5 sdm)
100 (1 gelas)
100 (1 potong)
-
25 (2,5 sdm)
25 (2,5 sdm)
|
Sumber : Desi Purwitasari,
dkk, 2009
Pemasukan
makanan ibu hamil pada trimester I sering mengalami penurunan karena menurunnya
nafsu makan dan sering timbul mual atau muntah, tetapi makan ini harus tetap
diberikan seperti biasa. Untuk mengatasi rasa mual atau muntah sebaiknya porsi
makanan ibu diberikan lebih sedikit dengan frekuensi pemberian lebih sering.
Sedangkan pada tremester II nafsu makan ibu biasanya meningkat. Kebutuhan akan
zat tenaga banyak dibandingkan kebutuhan saat hamil muda, demikian juga
kebutuhan zat pembangun dan zat pengatur seperti lauk-pauk, sayuran dan
buah-buahan. Pada kehamilan trimester III, janin mengalami pertumbuhan dan
perkembangan yang sangat pesat. Pada masa ini hindari makan berlebihan sehingga
berat badan tidak naik terlalu banyak. (Siti Bandiyah, 2009, hal 33-34).
Tabel
3. Contoh menu ibu hamil
Waktu
|
Menu
|
Gram
|
Ukuran rumah tangga
|
Manfaat Nutrisi
|
Pagi pukul 07.00
|
· Nasi goreng
· Telur dadar
· Lalapan
tomat dan ketimun
· Sari jeruk
|
200
50
100
200
|
2 gelas
1 butir
1 gelas
1 gelas
|
Zat
tenaga : 2
Zat
pembangun : 1
Zar
pengatur : 1
Zat
pengatur : 1
|
Pukul 10.00
|
· Bubur
kacang hijau
· Jus tomat
|
200
200
|
1 gelas
1 gelas
|
Zat
pembangun : 1
Zar
pengatur : 1
|
Siang pukul 12.00
|
· Nasi
· Empal
daging
· Oseng tahu
· Ca sawi dan
wortel
· Apel
|
200
100
100
100
100
|
2 gelas
Potong
4 potong
1 gelas
1 buah
|
Zat
tenaga : 2
Zat
pembangun : 2 Zat pembangun : 2
Zar
pengatur : 1
Zat
pengatur : 1
|
Pukul 15.00
|
· Rujak buah
· Susu
|
200
200
|
1 gelas
1gelas
|
Zar
pengatur : 1 Zat pembangun : 1
|
Malam pukul 18.00
|
· Nasi
· Ayam bakar
· Tempe penyet
· Lalapan
(kobis, ketimun)
· Sambal
· Melon
|
200
100
50
100
100
|
2 gelas
2 potong
2 potong
1 gelas
1 potong
|
Zat
tenaga : 2
Zat
pembangun : 2 Zat pembangun : 1
Zar
pengatur : 1
Zat
pengatur : 1
|
Pukul 21.00
|
· Susu
|
200
|
1 gelas
|
Zat pembangun : 1
|
Sumber
: Desi Purwitasari, dkk, 2009
D.
Tinjauan Tentang Proses
Manajemen Kebidanan
1. Pengertian
Manajemen
kebidanan, adalah pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode
pemecahan masalah secara sistematis mulai daripengkajian, analisis data,
diagnosis kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. (Wafi Nur
Muslihatun, dkk, 2009, hal 112).
2. Proses
menajemen Kebidanan
Proses
manajemen kebidanan terdiri dari tujuh langkah ynag berurutan dan setiap
langkah disempurnakan secara periodik. Proses dimulai dengan pengumpulan data
dan berakhir debgan evaluasi. Ketujuh langkah tersebut membentuk suatu kerangka
lengkap yang dapat diaplikasikan dalam situasi apa pun. Akan tetapi, setiap
langkah dapat diuraikan lagi manjadi langkah-langkah yang lebih rinci dan ini
bisa berubah sesuai dengan kebutuhan klien. Langkah-langkah tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Langkah
I. Pengumpulan Data dasar
Pada
langkah ini dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang diperlukan
untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap, yaitu:
1) Riwayat
keshatan.
2) Pemeriksaan
fisik sesuai dengan kebutuhannya.
3) Meninjau
catatan terbaru atau catatatn sebelumya.
4) Meninjau
data laboratorium dan memandingkannya dengan hasil studi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar